5

12.31.2008

Impulsif

Ringkasan dari :
How to Help Children with Common Problems
Karangan: Charles E. Schaefer, Ph.D & Howard L. Millman, Ph.D.

Anak dikatakan impulsif jika bertindak secara spontan/cepat, tiba-tiba, kasar, memaksa, tanpa perencanaan, tanpa pertimbangan (tidak peduli dengan konsekuensi dari perbuatannya), dan kurang dapat menunda pemuasan keinginannya.

Biasanya anak di bawah usia 8 tahun relatif lebih impulsif dari pada anak usia 9 - 18 tahun. Orang tua sering memandang impulsivitas sebagai agresi, ketidakmatangan emosi. Anak-anak ini sering berkelahi dan bertengkar sehingga dianggap sebagai anak nakal yang mau menang sendiri. Kemampuan menunda kepuasan adalah hal penting dalam perkembangan pribadi individu dan sebagai bahan dasar untuk melakukan interaksi sosial yang tepat dan memuaskan.


Penyebab
  1. Impulsivitas ekstrim diyakini disebabkan karena masalah organis, di mana mekanisme otak mengalami hambatan fungsional.
  2. Secara organis dapat bersifat genetik atau gangguan neurologis.
  3. Beberapa anak sejak lahir sudah membawa potensi impulsif yang menyebabkan ia bereaksi seketika pada banyak situasi.
  4. Penyebab impulsivitas lain yang sering terjadi adalah kecemasan dan faktor budaya. Anak yang cemas dan tegang (dengan berbagai konflik psikologis) seringkali bertindak seolah-olah dia berada dalam keadaan panik. Mereka bertindak dengan pikiran pertama mereka dan tidak dapat memutuskan untuk berpikir dengan cara yang lebih tenang. Demikian pula anak yang sedih dan pesimistik seringkali memilih imbalan kecil dan segera untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan anak yang gembira seringkali memilih imbalan besar meski tertunda.
  5. Faktor belajar. Anak mencontoh tingkah laku impulsif dari lingkungannya atau dari keluarga dekatnya.

Pencegahan Impulsivitas

Mengajari Menunda Kepuasan :
Anak kecil perlu belajar untuk menunggu atau menunda memperoleh kepuasan dengan segera. Tujuannya agar anak mampu mengendalikan ketegangan atau kemarahannya. Cara ini perlu diajarkan orang tua dengan tegas, namun bukan dengan kemarahan. Kemarahan hanya membuat anak mengasosiasikan bahwa menunggu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan.

Ajarilah anak melakukan "Self-Talk" (berkata pada diri sendiri untuk mensugesti atau memotivasi diri). Misalnya mengatakan "Saya bisa menunggu". Pada awalnya dengan suara keras sampai tertanam dalam hatinya. Jangan lupa untuk selalu memuji bila anak melakukan hal dengan benar.

Anak juga dapat diajari menunggu dengan menggunakan fantasi. Contohnya anak diminta membayangkan bentuk mainan yang diinginkannya, atau aktivitas lain yang menyenangkan. Cara ini akan mengalihkan perhatian mereka dari keinginan untuk memperoleh sesuatu dengan segera.

Bermainlah bersama anak. Melalui permainan, orang tua dapat mengajarkan kesabaran dan kepedulian pada orang lain. Misalnya orang tua memainkan boneka (puppet) yang berperan sebagai tokoh sabar dan mau menunggu giliran. Dengan bercerita, bermain peran atau menggambar, orang tua dapat mengajarkan cara mengendalikan diri.

Cara lain adalah membuat anak menyadari akibat/konsekuensi perbuatannya pada orang lain, sehingga anak akan berusaha menunda responnya. Ketidaksabaran dan keinginan memiliki suatu benda dengan segera akan menyebabkan orang lain tidak nyaman.

Memberikan imbalan pada tingkah laku anak adalah cara yang sangat baik meskipun harus dilakukan hati-hati. Jika saudara mereka (terutama adik) dapat menunggu dengan sabar tanpa mengeluh, maka adiknya akan memperoleh hadiah. Secara tidak langsung anak belajar bahwa menunggu memiliki konsekuensi positif.

Mengajari Proses Pemecahan Masalah
Di sini anak diharapkan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Salah satu caranya adalah dengan diskusi antara orang tua dan anak mengenai suatu kasus. Anak harus belajar bahwa ada banyak alternatif penyelesaian masalah.
Contoh kasusnya, misalnya apa yang harus dilakukan anak jika anak merasa marah dan sedih karena temannya menolak bermain dengannya. Alternatif pemecahannya:
  • Anak dapat diajari mengatakan pada temannya, "Jika kamu mau bermain puzzle dengan saya, maka saya akan bermain permainan kesukaannmu."
  • Atau anak diminta berkata pada dirinya, "Saya ingin sekali main puzzle dengan dia sekarang, tetapi saya akan menunggu sampai dia mau bermain nanti."
  • Alternatif lain adalah orang tua bertanya apakah ada kegiatan pengganti yang dapat menyenangkan bagi kedua anak.
Selain menyarankan solusi, orang tua juga harus mendiskusikan kemungkinan reaksi yang akan muncul dari orang lain. Anak yang kurang trampil memecahkan masalah seringkali merasa putus asa/tidak berdaya atau bahkan menjadi impulsif. Oleh karena itu anak harus memahami masalah, mengembangkan solusi alternatif, belajar menanganinya, menyadari akibat tindakannya dan menyadari reaksi serta perasaan orang lain. Cara di atas selain merupakan bentuk spesifik pencegahan impulsivitas, juga dapat dipandang sebagai bimbingan agar trampil menyesuaikan diri di lingkungan sosial.

Cara ini juga dapat digunakan bagi remaja. Saat makan malam atau ketika bercakap-cakap secara pribadi, orang tua dapat mendiskusikan cara pemecahan masalah dan meminta anak memikirkan sejumlah contoh kasus. Tunjukkan proses berpikir dan jangan melakukan jumping conclusion.

Banyak remaja merasa bahwa dengan berbicara pada orang tua, mereka akan memahami alternatif atau antisipasi konsekuensi dari suatu kejadian. Sehingga mereka juga belajar mempersiapkan pemecahan masalah jika masalah itu muncul.

Tindakan Yang Perlu Dilakukan Dalam Menghadapi Impulsivitas
  1. Mengajari Pemecahan Masalah
  2. Mengajari Self Talk
  3. Memberi Imbalan pada Tingkah Laku Reflektif dan Hukuman pada Tingkah Laku Impulsif
  4. Memberi Tanda/Isyarat
  5. Metode Profesional

Mengajari Pemecahan Masalah
Bisa jadi orang tua sering melihat reaksi impulsif yang ditampilkan anak, namun tidak menyadari bahwa anak mungkin tidak tahu tahapan yang dibutuhkan untuk bertindak dengan penuh pengendalian dan pertimbangan. Anak-anak seringkali merasa tidak berdaya dan sangat frustrasi bila usahanya tidak berhasil sehingga memunculkan reaksi marah dan sedih. Oleh karena itu orang tua perlu secara aktif mengajarkan cara berpikir.
  • Sebab Akibat : "Jika kamu memukul temanmu, maka mereka akan kesal."
  • Kemungkinan (probabilitas) : "Apa yang akan terjadi jika kamu selalu menyela orang yang sedang bicara?"
  • Konsekuensi dari suatu tindakan.
  • Solusi alternatif untuk satu persoalan : "Jika tidak ada orang di rumah, kamu dapat menelpon orang tua di kantor, pergi ke tetangga, atau bermain di luar sampai orang tua pulang"
Tanyakan apa yang terpikir untuk dilakukan oleh anak. Tujuannya, agar anak dapat berpikir lebih jauh dan mengevaluasi hasil beberapa solusi.

Berapa pun usia anak, orang tua dapat mengajarkan cara pemecahan masalah sesuai usianya. 15 menit diskusi adalah investasi waktu yang bernilai tinggi. Kuncinya adalah persepsi anak bahwa orang tua tidak menyalahkan atau mengkritik tetapi benar-benar berminat untuk membantu anak agar menjadi lebih reflektif (penuh pertimbangan) dan efektif. Anak impulsif perlu dipersiapkan agar bertindak lebih bertanggung jawab dan dengan pemikiran terlebih dahulu. Bersabarlah, karena mereka membutuhkan pengkondisian sampai mereka dapat tenang secara otomatis.

Mengajari Self Talk
Self-talk sebagai bentuk dari penundaan pemuasan keinginan adalah metode yang sangat kuat dalam mengatasi impulsivitas. Anak harus belajar untuk menunda kenikmatan. Menunggu giliran dalam suatu permainan, tidak makan permen sebelum makan malam, tidak menyela pembicaraan, tidak mengungkapkan ide tanpa berpikir terlebih dahulu, semuanya harus diajarkan. Dengan mengajari mereka melakukan self-talk akan membantu anak menjadi sabar, anak secara bertahap akan belajar menerapkannya dalam berbagai situasi.

Orang tua harus menjadi contoh efektif menggunakan self-talk dalam penyelesaian masalah sehari-hari. Misalnya, orang tua mengatakan di depan anak, "Sebentar, Mama akan berpikir dulu sebelum mengerjakannya."

Orang tua juga dapat bermain sandiwara untuk memperlihatkan cara berpikir dan bertindak dalam masalah tertentu. Jika seorang anak mengalami kesulitan, misalnya, menghadapi ejekan teman sebayanya, orang tua dapat berperan sebagai anak yang berada pada situasi tersebut dan berpura-pura berpikir serta melakukan tindakan yang tepat:
  • "Saya tidak akan memukulnya meskipun saya marah. Saya akan mengatakan padanya bahwa saya marah dan ia tidak boleh mengejek lagi"
  • "Saya marah diejek seperti itu, kamu tidak boleh bilang begitu."
  • Berpura-pura temannya tidak mau berhenti mengejek, orang tua kemudian berkata, "Saya akan pergi dan tidak peduli" (dan berpura-pura pergi). Tipe role playing seperti ini sangat mendidik.

Self-talk dapat ditingkatkan dengan sangat dahsyat dengan menggunakan kartu pengingat atau gambar yang digambar sendiri oleh anak atau orang tua. Gambar mengingatkan anak bagaimana bertindak tepat. Anak yang tidak mendengar orang lain dapat menggambar muka dengan telinga besar dan tulisan di bawahnya DENGARKAN APA YANG DIKATAKAN ORANG LAIN. Kartu besar bertuliskan BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK dapat dipajang. Kuncinya adalah agar anak belajar membayangkan kartu tersebut ketika akan bertindak dalam setiap situasi. Oleh karena itu ketika guru atau orang tua bicara, anak berkata pada dirinya sendiri, "Dengarkan apa yang dikatakan Bapak/Ibu" atau "Pikir dulu sebelum bertindak".

Memberi Imbalan Reflektif dan Hukuman Untuk Tindakan Impulsif
Selain imbalan yang diberikan orang tua, anak harus diajari cara memberi imbalan pada diri sendiri (self-reinforcement), ketika mereka berhasil menunggu, atau mempertimbangkan pendekatan yang lebih baik pada suatu situasi. Sebaiknya, kapan pun anak yang impulsif berhasil menunda suatu respons dan menyadari konsekuensinya, orang tua harus mengetahuinya. Orang tua harus menangkap saat ketika anak mampu bertoleransi terhadap frustrasi dan segera memperkuat kejadian yang jarang tersebut. "Hebat sekali, meskipun kamu kehilangan mainan tapi kamu tetap mau bermain." Ketika anak bertindak impulsif, berilah anak kesempatan untuk menyadari alternatif tindakan lain dan kemudian memberi imbalan kepadanya. Banyak anak impulsif dapat menurunkan tingkat impulsivitasnya dengan cara ini.

Bila kurang berhasil cobalah cara "time out". Misalnya ketika anak bicara terus-menerus secara impulsif atau tiba-tiba bertindak semaunya, ingatkan dia untuk berhenti dan masuk ke dalam kamarnya (Time Out) sampai ia tenang. Bila orang tua menggunakan imbalan dengan sistem pemberian point, maka pada saat time out, point dapat dikurangi. Waktu ekstra untuk bermain, mengerjakan tugas bebas atau menonton telelvisi dapat digunakan sebagai imbalan harian. Syaratnya, harus ada batasan dan harapan yang tegas dan dijelaskan dengan pemberian sanksi.

Memberi Tanda/Isyarat
Buatlah tanda, misalnya dengan mengacungkan jempol kiri dan jari telunjuk, untuk menunjukkan pada anak yang sangat impulsif bahwa ia sedang bertindak impulsif dan harus segera mengendalikan dirinya. Dalam keadaan stress, anak yang melihat tanda ini akan menjadi tenang, dan berhenti bertindak atau bicara impulsif. Mereka juga belajar memberi tanda tersebut pada dirinya sendiri untuk menenangkan diri dan menjadi lebih terkendali. Belajar memuji dirinya sendiri bila bertingkah laku yang lebih baik adalah penting.

Metode Profesional
Sama dengan hiperaktivitas, ada beberapa metode yang digunakan para profesional yang secara khusus efektif pada anak impulsif. Banyak bentuk digunakan untuk meningkatkan perasaan tenang psikologis dan fisiologis. Relaksasi otot dan bermacam prosedur biofeedback dapat digunakan. Kontroversial tapi seringkali efektif, adalah penggunaan psikotropika untuk anak yang sangat impulsif yang tidak berespon terhadap pendekatan lain. Anak yang sangat impulsif dapat menggunakan kombinasi metode profesional dan metode orang tua. Bahkan anak yang sebelumnya membutuhkan pengobatan secara medis dapat menguranginya jika metode dari orang tua berhasil digunakan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Subscribe