5

12.30.2008

Hiperaktif

Ringkasan dari :
How to Help Children with Common Problems
Karangan: Charles E. Schaefer, Ph.D & Howard L. Millman, Ph.D.

Gerakan fisik yang berlebihan (di atas normal atau di atas batas yang dapat diterima) disebut dalam istilah hiperaktivitas (hyperactive). Orang tua dapat dengan mudah mengenali gangguan ini dengan melihat jumlah dan derajat aktivitas yang dilakukan secara konstan, tidak sengaja dan berbeda dari anak sebayanya dengan jenis kelamin yang sama. Informasi obyektif juga dapat diperoleh dari teman atau guru, misalnya; ketika berada di kelas atau berekreasi.

Hiperaktivitas ditunjukkan dengan aktivitas yang tidak produktif dan tidak bertujuan, berbeda dengan dengan anak cerdas yang aktif akan melakukan tindakan produktif dan terarah/bertujuan. Indikator praktis bagi orang tua untuk menentukan hiperaktivitas adalah seringnya anak bergerak dalam suatu ruangan, mondar-mandir, memanjat-manjat dan sering gagal menyelesaikan tugas karena terlalu banyak melakukan aktivitas. Mereka sulit duduk tenang dan selalu ada anggota tubuh yang bergerak.

Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki dan anak yang berasal dari golongan ekonomi lemah lebih banyak yang mengalami gejala hiperaktivitas dibanding anak perempuan dan anak yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas.
Harus dibedakan pula antara hiperaktif dengan over aktif (tingkat aktivitas tinggi). Over aktif umum terjadi pada anak usia 2 dan 3 tahun, anak terbelakang yang berusia mental 2 atau 3 tahun, anak yang senang bereksplorasi, anak yang sangat cerdas, anak yang banyak dilarang orang tua dan anak yang berada dalam lingkungan yang kurang mendukung perkembangannya. Penelitian menemukan bahwa 5 - 10 % dari seluruh anak adalah hiperaktif. Dan dari seluruh anak yang dikirim ke klinik tumbuh kembang anak, sekitar 40 %-nya adalah hiperaktif. Over aktif dapat berkurang dengan bertambahnya usia dan kematangan anak, tetapi hiperaktif dan kurang konsentrasi dapat berlanjut sampai masa dewasa.

Penyebab
  1. Temperamen sangat aktif sejak lahir.
  2. Faktor genetik
  3. Disfungsi pada beberapa bagian otak yang menyebabkan munculnya gerakan berlebihan yang tidak beraturan.
  4. Pembesaran kepala dan keracunan.
  5. Pengaruh lingkungan, termasuk di dalamnya perlakuan orang tua karena perlakuan orang tua dapat menyebabkan atau memperberat hiperaktivitas anak tetapi juga dapat meningkatkan aktivitas yang terarah.
  6. Penyebab berikutnya, meskipun jarang terjadi adalah adanya electrical brain malfunctioning, gangguan endokrin dan tumor. Pada kasus-kasus yang jarang tersebut, dibutuhkan diagnosis yang tepat dan penanganan medis terbaik.
  7. Beberapa kasus alergi dikatakan dapat menyebabkan reaksi-reaksi hiperaktivitas pada anak. Feingold menyusun suatu diet dengan mengurangi makanan tertentu yang mengandung bahan pengawet, aspirin dan salisilat. Biasanya orang tua mengalami kesulitan melarang anaknya agar tidak makan es krim, soft drink,biskuit dan buah-buahan/sayuran tertentu, namun demikian bukti ilmiah belum menunjukkan adanya efektivitas diet ini.
Oleh karena itu penting untuk mengetahui penyebab hiperaktivitas yang terjadi pada anak, dengan menggunakan pemeriksaan medis dan psikologis. Yang paling baik adalah bila pemeriksaan dilakukan secara multi-disiplin.

Kesadaran akan adanya masalah neurologis yang menyebabkan hiperaktivitas akan membuat orang tua lebih memahami dan lebih toleran pada anak. Daripada menyalahkan anak karena mengganggu orang lain, lebih baik memfokuskan untuk membantu anak agar mengurangi kecepatan gerakannya dan secara efektif mengatasi masalah organisnya.

Pencegahan Hiperaktif

1. Menyediakan Lingkungan yang Sehat
  • Menjaga kondisi fisik dan mental ibu hamil. Tidak mengalami stress dan penyakit yang berat. Menjaga gizi ibu dan tidak mengkonsumsi obat-obatan (alkohol, rokok, obat penenang, marijuana dll.) dan memeprbanyak ibadah sunnah (membaca Al-Qur’an, shalat malam) selain ibadah yang wajib.
  • Penggunaan forceps pada saat kelahiran dianggap menjadi penyebab munculnya kombinasi dari hiperaktivitas, impulsivitas dan ketidak mampuan konsentrasi pada beberapa anak. Ada keyakinan bahwa metode kelahiran anak secara normal adalah cara terbaik dalam melahirkan untuk menghindari tekanan pada sistem syaraf pusat bayi yang baru lahir.
  • Memberikan gizi yang baik pada anak.
  • Memberikan perlindungan dan rasa aman pada bayi/anak
  • Memberikan stimulasi sensoris pada bayi, bahkan semenjak bayi masih di dalam boks, misalnya, dengan memberikan mainan yang memiliki perbedaan tekstur.
  • Menghindari stimulasi yang berlebihan (terlalu bising, omelan terus-menerus, lingkungan yang kacau dan tidak terorganisir) atau stimulasi yang tidak adekuat (kekurangan materi permainan).
  • Aktivitas normal dan terarah dimaksimalkan oleh lingkungan yang terorganisir. Orang tua yang memiliki temperamen berbeda dengan anak seringkali mengomel karena kurang menerima dan mengakomodasi kecepatan gerak anak. Kondisi ini termasuk yang harus dihindari.

2. Mengajarkan Kegiatan yang berguna
Orang tua seringkali under estimate terhadap kekuatan efek pengajaran yang konsisten untuk menghasilkan tingkah laku yang terarah. Sebaiknya sejak bayi, orang tua memberi penguatan secara positif (reinforcement) terhadap aktivitas bayi yang terarah. Perhatian dan penghargaan pada bayi dan balita terhadap tingkah laku yang diterima akan secara efektif memperkuat tingkah laku tersebut. Di sini orang tua bertindak sebagai model yang mampu memfokuskan dan menyelesaikan tugas secara efektif. Di samping itu orang tua perlu berbicara sebagai satu cara menunjukkan tingkah laku yang bertujuan, misalnya “ Mari kita mengambil air wudhu’ dulu setelah itu kita shalat berjema’ah” atau "Mama mau melipat baju setelah itu menyimpannya di lemari." Bahasa juga dapat digunakan sebagai alat self-monitoring, "Mama belum selesai menyapu, Mama selesaikan dulu ya."

Tindakan yang Harus Dilakukan Menghadapi Anak Hiperaktif
  1. Dukungan secara lisan pada tingkah laku yang sesuai
  2. Kontrak
  3. Sistem Point
  4. Memberikan Struktur
  5. Mendukung Pengendalian Diri
  6. Metode Profesional
Dukungan secara lisan
Kebalikan dari hiperaktivitas adalah tingkat aktivitas yang sesuai, kegiatan terarah dan produktif. Orang tua perlu menunjukkan tingkah laku yang produktif dan memuji ketika anak melakukannya dengan benar, misalnya “ Alhamdulillah, kamu telah melaksanakan shalat dengan tertib dan benar” atau "Alhamdulillah, kamu dapat menyelesaikan tugas ini dengan hati-hati." Menyusun tujuan harian yang spesifik sehingga anak berusaha mencapai tujuan untuk memperoleh penghargaan. Orang tua pun perlu mencontohkan melakukan aktivitas yang bertujuan.

Kontrak
Bagi anak yang sudah lebih besar atau remaja, dapat dibuat suatu kontrak yaitu persetujuan untuk memberikan imbalan pada anak jika melakukan tingkah laku yang diharapkan. Imbalan harus sering diberikan, kecil dan segera setelah penyelesaian tugas. Kontrak harus tertulis, jelas, spesifik, adil dan dapat dicapai.
Contoh :
  • Kita akan rekreasi bersama kalau kita dapat shalat berjemaah 5 waktu dan membaca Al-Qur’an secara teratur setiap hari.
  • Saya akan memperoleh tambahan uang sebesar Rp. 100 setiap hari dan hadiah pada hari Minggu jika saya duduk tenang selama makan malam dan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik
Sistem Point
Pemberian point, token atau tanda cek dapat dengan segera mengubah tingkah laku anak. Sistem point biasanya berguna bagi anak yang tidak berespon terhadap pujian. Namun sistem ini harus dilakukan secara konsisten dan point diberikan hanya untuk tingkah laku spesifik. Penting untuk merancang secara tepat pemberian imbalan sesuai dengan usia dan minat anak.
Contoh program sistem point :tingkah laku yang diberi imbalan
  • Shalat dengan tertib dan benar memperoleh 2 token setiap waktu
  • Duduk dengan tenang memperoleh 1 token setiap 10 menit
  • Menyelesaikan tugas memperoleh 2 token untuk 1 tugas
Bila anak berhasil memperoleh 10 token, maka ia boleh berjalan-jalan bersama orang tua pada hari minggu, dll. Pemberian imbalan harus benar-benar dirancang agar tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Memberikan Struktur
Anak harus tahu apa yang diharapkan darinya. Dalam hali ini orang tua harus menyatakan dengan jelas dan deskriptif tingkah laku apa yang tepat dan disampaikan tanpa kemarahan. Contoh :
  • “Alhamdulillah kamu sudah dapat mengambil air wudhu’ dan shalat dengan tepat dan benar”
  • "Kamu tidak akan dapat belajar dengan baik kalau meloncat-loncat terus kesana-kesini"
  • "Bagus sekali, kalau kamu bisa menempel gambar itu sampai selesai"
  • "Kalau kamu sedih, cobalah berdo’a dengan tenang, tarik nafas dalam-dalam dan bacalah Al-Qur’an dengan khusyu”
Reinforcement positif, adalah cara kongkrit memperlihatkan pada anak tingkah laku apa yang diharapkan. Jika orang tua bersikap konsisten dan dapat diprediksi, anak hiperaktif akan merasa tenang dan terlindungi. Ayah dan Ibu harus sepakat untuk berespon pada anak dalam gaya yang sama, sehingga anak kebingungan.

Persiapkan anak sebelum menghadapi sesuatu. Misalnya sebelum masuk ke departemen store orang tua mengatakan: "Nanti akan ada banyak orang dan sangat ramai, kalau kamu bersama Mama tidak akan apa-apa. Di sana anak kecil tidak boleh menyentuh/merusak barang-barang. Oleh karena itu kamu bawa mainan/buku ini saja." Kuncinya adalah menggunakan strategi untuk mempersiapkan anak memfokuskan pada kegiatan terstruktur sampai anak dapat melakukannya secara mandiri.

Di rumah, distraksi dapat diminimalkan dengan mengorganisasikan kamar anak. Meja harus bersih dari benda-benda yang tidak penting. Bagi anak kecil penempatan benda perlu diberi label.

Mendukung Pengendalian Diri
Ajarilah anak untuk melakukan self-talk yaitu berkata pada dirinya untuk mensugesti diri. Cara ini merupakan salah satu cara yang efektif.
Misalnya:
  • “Saya harus melaksanakan shalat dengan khusyu’, baru belajar”
  • "Saya selesaikan tugas ini sekarang, nanti saya main"
  • "Berhenti bergerak-gerak, ayo berpikir"

Orang tua dapat membantu dengan mengatakan kata kunci pada anak, "Ayo tenang," atau "Apa yang harus dikerjakan?" dll. Perlu juga dicatat oleh orang tua kemampuan aktual anak untuk menenangkan diri dan melakukan kegiatan bertujuan. Kombinasikan sistem pemberian reward untuk memperkuat tingkah laku positif.

Dalam beberapa kasus, keberhasilan justru diraih ketika anak melakukan gerakan (yang biasanya dilakukan tanpa disadari) dengan sengaja dan berlebihan. Misalnya, jika seorang anak menggerak-gerakkan tangannya berulang-ulang, beri tahu dia untuk melakukan olah raga (menggerakkan tangan ke atas ke bawah) selama beberapa menit. Atau anak diminta lari bolak balik 4 kali selama 2 menit. Ide dasarnya adalah untuk menginterupsi gerakan tidak terkendali dan secara bertahap mengubahnya melakukan kegiatan terkendali dengan sengaja. Metode ini harus dipandang sebagai bantuan bukan sebagai hukuman.

Metode lain adalah dengan mengurangi kecepatan aktivitas secara terkendali dengan cara memberikan kegiatan yang membutuhkan pengendalian, misalnya: menggambar, menempatkan benda dalam box, mengikat tali, meronce dll.

Metode Profesional
Berdo’a dan bertawakal kepada Allah SWT serta minta bantuan dokter atau terapis dapat dilakukan jika metode orang tua tidak berhasil. Misalnya; Shalat malam, Puasa Sunnah, penggunaan obat-obatan, diet makanan tertentu, relaksasi otot, desensitisasi stress dan berbagai metode biofeedback (pernafasan, gelombang otak, latihan otot) adalah treatment yang biasa dilakukan secara spesifik pada anak hiperaktif.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Subscribe